Inisiatif Vs Loyalitas
Loyalitas dan Inisiatif, dua kata yang ngga jauh dari "atasan-bawahan", "bos-anak buah", "pemimpin-anggota", dan banyak pasangan superior-inferior lain yang keduanya terikat oleh karena suatu tujuan yang sama. Dalam mencapai tujuan, dan melibatkan banyak orang, loyalitas dan inisiatif akan selalu aktual untuk diomongin...
Ada sebuah cerita yang menggambarkan dilema sebuah inisiatif dan loyalitas. Once upon a time, di pedalaman Afrika, terdapatlah 2 suku yang saling berperang. Anggap saja suku “Bulat” dan suku “Panjang”. Kedua suku ini memliki kekuatan militer yang bisa dianggap setara, baik dalam kualitas dan kuantitasnya. Anggota masyararakat kedua suku bisa dibilang memiliki intelektualitas yang unggul dibanding semua suku di pedalaman Afrika.
Sebelum berperang, kepala suku Bulat, memberi beberapa perintah kepada prajurit2nya, perintah yang pertama adalah kepala suku selalu benar, yang kedua segala perintah dan taktik menyerang hanya datang dari kepala suku, dan yang ketiga dilarang berisik pada saat berperang. Membuat keributan seperti menginjak dahan sampai patah ataupun ngobrol dengan sesama prajurit dianggap menguntungkan pihak lawan, dan pelanggar akan dihukum keras secara militer. Yang keempat adalah tujuan utama dari perang ini adalah menghabisi semua prajurit suku Panjang, tanpa terkecuali. Para prajurit yang sangat menghormati dan takut akan kepala suku spontan menyetujui apa yang dikatakan kepala suku.
Di lain pihak, kepala suku Panjang, yang sangat dihormati dan disegani oleh para prajuritnya, juga memberi perintah kepada para prajurit. Perintahnya adalah “Dengarkan kata-kataKu, tugas kalian adalah melenyapkan suku Bulat dari muka bumi, dari kepala suku sampai prajurit2nya! Kalian boleh bertindak apa saja, ketika Ku beri komando menyerang, lakukan sesuka kalian, saya bebaskan kalian untuk menghancurkan lawan menurut inisiatif kalian sendiri.” Para prajurit pun bersorak menunjukkan hormat bagi kepala suku, tanda setuju.
Medan perang adalah hutan belantara, lebat penuh dengan pepohonan. Suku Bulat datang dari Utara, dan Suku Panjang dari Selatan. Kemungkinan mereka akan bertemu di tengah hutan tersebut. Kedua kepala suku secara kebetulan memberi komando untuk menyerang secara bersamaan.
Manakah yang akan memenangkan perang ini? Apakah suku Bulat atau suku Panjang? Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing2.
Coba kita lihat dari 2 sudut pandang, yakni sudut pandang pemimpin dan yang dipimpin. Kita lihat ada 2 cara memimpin, yang pertama suku Bulat, Konvergen dan Detail, yang kedua suku Panjang General (umum) dan Divergen. Keduanya punya keunggulan, yang konvergen mampu mengatur pasukan sehingga menjalankan taktik yang sudah direncanakan dengan matang, Sebaliknya yang divergen percaya akan kemampuan militer pasukan yang telah dilatih sebelumnya untuk mencari sasaran dan menyerang sesuai kemampuan, dengan harapan, taktik tidak akan terbaca, dan membingungkan lawan, bukan tidak mungkin untuk menghancurkan lawan dan membunuh sang kepala suku lebih cepat dan efektif.
Trussss, kita liat juga dari pasukannya, yang konvergen (memusat dan detail), mereka tahu persis apa, kapan, dimana, sasaran, dan bagaimana tugas mereka. Tiap individu punya tugas dan tanggung jawab, dan saling terkait, tidak terpisahkan mengikuti taktik yang ada. Yang divergen, pasukan merasa berani dan percaya diri akan kemampuan masing2. Mereka senang karena mereka tidak diatur, mereka bisa menyesuaikan kondisi fisik, dan mental mereka dengan kondisi lapangan. Masing2 menyiapkan taktik yang efektif. Meskipun tidak dipungkiri, tetap ada beberapa yang menyusun taktik bersama dan membuat kelompok2 kecil untuk menyerang.
Nah, kasusnya! Bagaimana jika salah satu suku Bulat, ketika berperang, mengetahui letak kepala suku Panjang, namun tidak bisa menyerang, karena ia loyal pada perintah, yakni ia diharuskan berjaga di posnya, tanpa gerak dan suara, menunggu perintah selanjutnya? Bila dia menyerang, sudah tentu sukunya menang. Atau Kepala Suku Panjang, dengan taktik Divergennya, suatu saat merasa semua pasukannya sudah mati, atau hilang di hutan, padahal dia tahu persis ada sekawanan pasukan suku Bulat dengan cepat menuju ke arahnya untuk membunuhnya? Bila dia sebelum perang mengatur pasukan untuk mengawalnya, kemungkinan besar ia akan selamat!
Kuncinya adalah, kita tahu loyalitas dan inisiatif kita ciptakan/lakukan (pemimpin-anak buah), untuk apa. Untuk kepuasan pribadi? Untuk mendapat pujian? Untuk kehormatan? Untuk kenaikan pangkat?
Apakah tidak lebih baik loyalitas dan inisiatif kita lakukan secara SEIMBANG dengan melihat TUJUAN sebagai orientasi pola pikir dan tindakan? Kepemimpinan yang baik/ seni memimpin yang dilakukan kepala suku harus melihat tujuan, sehingga tidak menjadi buta akan pangkat kepala sukunya, yang bisa menyuruh seenaknya. Kesetiaan seorang prajurit harus diimbangi oleh inisiatif, yang sebelumnya harus mengerti tujuannya secara menyeluruh sebagai bahan pertimbangan bertindak.
Jadi, mana yang lebih penting, Inisiatif atau Loyalitas?
Ada sebuah cerita yang menggambarkan dilema sebuah inisiatif dan loyalitas. Once upon a time, di pedalaman Afrika, terdapatlah 2 suku yang saling berperang. Anggap saja suku “Bulat” dan suku “Panjang”. Kedua suku ini memliki kekuatan militer yang bisa dianggap setara, baik dalam kualitas dan kuantitasnya. Anggota masyararakat kedua suku bisa dibilang memiliki intelektualitas yang unggul dibanding semua suku di pedalaman Afrika.
Sebelum berperang, kepala suku Bulat, memberi beberapa perintah kepada prajurit2nya, perintah yang pertama adalah kepala suku selalu benar, yang kedua segala perintah dan taktik menyerang hanya datang dari kepala suku, dan yang ketiga dilarang berisik pada saat berperang. Membuat keributan seperti menginjak dahan sampai patah ataupun ngobrol dengan sesama prajurit dianggap menguntungkan pihak lawan, dan pelanggar akan dihukum keras secara militer. Yang keempat adalah tujuan utama dari perang ini adalah menghabisi semua prajurit suku Panjang, tanpa terkecuali. Para prajurit yang sangat menghormati dan takut akan kepala suku spontan menyetujui apa yang dikatakan kepala suku.
Di lain pihak, kepala suku Panjang, yang sangat dihormati dan disegani oleh para prajuritnya, juga memberi perintah kepada para prajurit. Perintahnya adalah “Dengarkan kata-kataKu, tugas kalian adalah melenyapkan suku Bulat dari muka bumi, dari kepala suku sampai prajurit2nya! Kalian boleh bertindak apa saja, ketika Ku beri komando menyerang, lakukan sesuka kalian, saya bebaskan kalian untuk menghancurkan lawan menurut inisiatif kalian sendiri.” Para prajurit pun bersorak menunjukkan hormat bagi kepala suku, tanda setuju.
Medan perang adalah hutan belantara, lebat penuh dengan pepohonan. Suku Bulat datang dari Utara, dan Suku Panjang dari Selatan. Kemungkinan mereka akan bertemu di tengah hutan tersebut. Kedua kepala suku secara kebetulan memberi komando untuk menyerang secara bersamaan.
Manakah yang akan memenangkan perang ini? Apakah suku Bulat atau suku Panjang? Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing2.
Coba kita lihat dari 2 sudut pandang, yakni sudut pandang pemimpin dan yang dipimpin. Kita lihat ada 2 cara memimpin, yang pertama suku Bulat, Konvergen dan Detail, yang kedua suku Panjang General (umum) dan Divergen. Keduanya punya keunggulan, yang konvergen mampu mengatur pasukan sehingga menjalankan taktik yang sudah direncanakan dengan matang, Sebaliknya yang divergen percaya akan kemampuan militer pasukan yang telah dilatih sebelumnya untuk mencari sasaran dan menyerang sesuai kemampuan, dengan harapan, taktik tidak akan terbaca, dan membingungkan lawan, bukan tidak mungkin untuk menghancurkan lawan dan membunuh sang kepala suku lebih cepat dan efektif.
Trussss, kita liat juga dari pasukannya, yang konvergen (memusat dan detail), mereka tahu persis apa, kapan, dimana, sasaran, dan bagaimana tugas mereka. Tiap individu punya tugas dan tanggung jawab, dan saling terkait, tidak terpisahkan mengikuti taktik yang ada. Yang divergen, pasukan merasa berani dan percaya diri akan kemampuan masing2. Mereka senang karena mereka tidak diatur, mereka bisa menyesuaikan kondisi fisik, dan mental mereka dengan kondisi lapangan. Masing2 menyiapkan taktik yang efektif. Meskipun tidak dipungkiri, tetap ada beberapa yang menyusun taktik bersama dan membuat kelompok2 kecil untuk menyerang.
Nah, kasusnya! Bagaimana jika salah satu suku Bulat, ketika berperang, mengetahui letak kepala suku Panjang, namun tidak bisa menyerang, karena ia loyal pada perintah, yakni ia diharuskan berjaga di posnya, tanpa gerak dan suara, menunggu perintah selanjutnya? Bila dia menyerang, sudah tentu sukunya menang. Atau Kepala Suku Panjang, dengan taktik Divergennya, suatu saat merasa semua pasukannya sudah mati, atau hilang di hutan, padahal dia tahu persis ada sekawanan pasukan suku Bulat dengan cepat menuju ke arahnya untuk membunuhnya? Bila dia sebelum perang mengatur pasukan untuk mengawalnya, kemungkinan besar ia akan selamat!
Kuncinya adalah, kita tahu loyalitas dan inisiatif kita ciptakan/lakukan (pemimpin-anak buah), untuk apa. Untuk kepuasan pribadi? Untuk mendapat pujian? Untuk kehormatan? Untuk kenaikan pangkat?
Apakah tidak lebih baik loyalitas dan inisiatif kita lakukan secara SEIMBANG dengan melihat TUJUAN sebagai orientasi pola pikir dan tindakan? Kepemimpinan yang baik/ seni memimpin yang dilakukan kepala suku harus melihat tujuan, sehingga tidak menjadi buta akan pangkat kepala sukunya, yang bisa menyuruh seenaknya. Kesetiaan seorang prajurit harus diimbangi oleh inisiatif, yang sebelumnya harus mengerti tujuannya secara menyeluruh sebagai bahan pertimbangan bertindak.
Jadi, mana yang lebih penting, Inisiatif atau Loyalitas?
-arnoldusvigaraprawitayoasta-

0 Comments:
Post a Comment
<< Home