Friday, February 25, 2005

film

Pernah nonton film?
Pernah nonton film di 21cineplex?
Pernah nonton film di 21cineplex, merhatiin ceritanya?
Pernah nonton film di 21cineplex, merhatiin ceritanya, trus ngerasa seakan kitalah pemain film tersebut?
Pernahkan disindir?
Pernahkan disindir oleh sebuah film?
Pernahkan merasa tersindir, bahkan sebelum sang pemain film melakukan adegan itu?


Film apapun, film kartun, film dokumenter, film layar lebar, layar tancep, romantis, thrilling, horror, suspense, comedy, musical, semuanya bercerita tentang dunia, keadaan dunia menurut interpretasi masing2 yang kemudian diwujudkan dalam sebuuah karya visual. Para pembuat fil dari yang kacangan sampai yang kelas kakap mencoba membungkus, ato lebih sopannya merangkum segala imajinasi yang ada di kepalanya untuk disatukan dan diramu sehingga mengghasilkan film sesuai dengan kemampuannya.

Tadi disinggung dunia, meskipun ada banyak film, banyak cerita, banyak aktor, aktris, banyak produser dan sutradara, tetap saja memiliki kesamaan dalam isi filmnya, mengapa? Karena kita hidup di dunia yang SAMA. Tidak ada yang membuat film untuk dunia selain dunia kita, atau sebaliknya adakah makhluk atau substansi yang pernah membuat film dari dunianya untuk dunia kita.

Pemikiran tadi membuat gw merasa menemukan jawaban mengapa?
Kita sering tersindir oleh film
Pejabat korup tersindir oleh lawakan 30 menit
Rohaniwan bermental p****K (ups), minta duit, kasi servis, ngabur ntah kmana juga tersindir
Kawanan maling kawakan dapat bertobat karena tontonan kriminal, dimana maling tertangkap langsung dibakar massa.
dan mahasiswa dengan secuplik pengalamanpun dapat kembali ke masa lalunya, dan termangu oleh pesona sindiran film layar lebar?

sebegitu hebatkah sebuah film dengan "jiwa"nya mampu mencari celah dalam relung masa lalu kita, mengoyak, dan melontarkannya ke alam sadar kita. Atau sehebat itukah sistem memori jangka panjang dapat dengan diam dan tenang menunggu namun waspada laksana singa mencari mangsa, menunggu stimulus, tunjukkan dayanya pada ego yang hanya diam ketika film dan pikiran berseteru sementara mata kita, telinga kita , dan dagu kita tetap tertopang indahnya warna-warna visual dan merdunya melodi dari sebuah film?

salut untuk sebuah film
mahakarya abad 21
cerdaskan manusia
sadarkan manusia
merdekakan manusia
gerakkan manusia
juga suramkan hati manusia

untuk film2 hebat yang telah menyindirku
-vigara-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home