Wednesday, April 12, 2006

masih ingin sibuk kah???

Masyarakat post modern mungkin identik dengan sebuah kata yang akrab di telinga, sibuk atau kesibukan apabila dibendakan. Kesibukan telah menjadi sebuah fenomena, pengalaman manusiawi, hasil pengamatan bahkan bisa dikaitkan dengan kesibukan manusia.

Melihat manusia di sekitar kita, tentunya ada observasi baik secara sadar maupun tidak, dan nantinya akan masuk dalam struktur kognisi yang akan membentuk sebuah skema. Mengamati kesibukan manusia, tentunya ada sesuatu di balik hiruk pikuk dunia, dimana manusia tak henti-hentinya bergerak, berjalan kian kemari, menerima panggilan, berkata-kata atau sekedar “sibuk” menggerakkan bola mata.

Perhatian manusia pada umumnya terbatas, dan cenderung menentukan satu titik focus. Bagi masyarakat Indonesia, perhatian kita adalah orang-orang yang dalam tanda petik sibuk. Sebut saja presiden, menteri, pejabat negara, sampe artis adalah orang sibuk. Dan itulah role model kita, panutan yang kita jadikan standar kesuksesan hidup manusia. Dan sadarkah ketika kita sudah menjadikan kesibukan sebagai bagian hidup???

Tadi siang saya baru ngobrol dengan teman kampus yang kebetulan merasa dirinya pernah sibuk dan menilai gw berpotensi sibuk akhir-akhir ini. Sharing dengan teman saya membuat saya memiliki pandangan baru terhadap suatu kesibukan.

Apakah kesibukan bermakna?
Apakah kesibukan membangun?
Memelihara sesuatu?
Apakah kesibukan membawa ketenangan hati?
Apakah kesibukan adalah tujuan hidupmu?

Yang membuat saya menarik adalah suatu pernyataan mengenai kesibukan, dalam bahasa cina, entah apa saya juga tidak belajar bahasa cina, KESIBUKAN berasal dari sebuah kata yakni KOSONG. Terkejut? Kesibukan adalah kekosongan. Dengan menyibukkan diri, berarti anda seperti dengan tekun membuat gentong besar setekun melubanginya, hasilnya tentunya semua dapat menyimpulkan... Dengan sibuk anda kekurangan waktu untuk bersama teman, untuk bersama orang-orang yang anda cintai, dan untuk sang Pencipta. Pada akhirnya tak dapat dipungkiri yang didapatkan adalah sebuah kekosongan.. Siapkah anda??

Psikologi kontemporer menyinggung mengenai kesibukan yang dikaitkan dengan kebutuhan manusia mengenai aktualisasi diri dan esteem. Hal ini bisa kita alami dalam kehidupan nyata, orang yang terlihat maupun menganggap dirinya sibuk adalah orang yang menyadari kemampuannya, dan ingin menunjukkannya kepada orang lain tanpa menyadari bahwa dengan demikian dirinya akan terjebak pada suatu locus of control dan motivasi eksternal. Kebutuhan akan diakui dan dihargai bersumber pada pengamatan bahwa yang sibuk, yang berusaha, yang mau capek adalah yang dihargai bahkan dihargai oleh siapapun untuk beberapa waktu. Dan ketika sadar bahwa diri anda puas akan hasil dari kesibukan, anda akan sadar bahwa anda ingin diakui lebih dalam lagi. Inilah yang membuat kita nantinya tidak akan menguasai diri kita meskipun pada taraf tertentu kita merasa teraktualisasi dengan kesibukan-kesibukan tanpa henti.

Selanjutnya, menurut kepercayaan saya, seorang yang hebat pernah berkata bahwa dirinya tidak lagi dikaitkan dengan pengakuan orang lain, ataupun pengakuan pihak yang berkuasa, tapi kembali pada pertanyaan apakah kita ini diakui sebagai hambaNya oleh pencipta kita?? Kesibukan di dunia ini apakah jaminan akan pemenuhan kebutuhan kita nantinya setelah tidak di dunia ini?? Hanya kita dan Tuhan yang sanggup menjawabnya.

Kesibukankah yang menjadi kehidupmu?
Atau kehidupankah yang menjadi kesibukanmu?






1 Comments:

Blogger Unknown said...

hehehe... psiko banget posting lo.

kulo nuwun.. ;p

10:30 PM  

Post a Comment

<< Home