Sex and Money
Sejak 3 hari yang lalu saya masih teringat akan sebuah tulisan di sebuah majalah. Majalah itu milik teman saya, memuat materi-materi hiburan untuk pria dewasa. Yang membelinya sudah barang tentu memiliki maksud untuk menikmati isi majalah itu disela kesendiriannya sebagai pria lajang.
Dalam majalah itu tertulis sebuah ungkapan dalam bahasa inggris, ”For men, marriage is the price for sex, for women, sex is the price of marriage.” Ungkapan ini tertulis dengan ukuran besar dan mengisi rubric tentang seks pra nikah menurut berbagai sumber. Sayangnya, nama pencetus kalimat ini tertulis NN.
Meskipun majalah ini hanyalah sebuah majalah hiburan, namun kalimat tadi bisa merupakan jokes, sindiran, maupun refleksi bagi kita semua. Insightnya adalah tidak semua pihak yang terlibat dalam melakukan suatu hal memiliki penafsiran yang sama ketika melakukannya.
Dalam seks, memang baik pria dan wanita sekilas melakukan hal tersebut karena alasan yang sama, namun kalimat tadi menggambarkan betapa ironisnya perbedaan yang sebenarnya terjadi. Contoh lain dalam pendidikan, guru mempersepsikan uang (gaji) adalah hadiah setelah lelah mengajar, sedangkan bagi murid, pengajaran dari guru adalah hal yang harus mereka dapatkan dari uang yang telah mereka bayar.
Dua contoh tadi memperlihatkan adanya skala prioritas yang berbeda. Prioritas lelaki adalah seks (stereotype), sedangkan priorittas wanita adalah perkawinan. Prioritas membentuk sebuah sikap -- evaluasi akan hal-hal yang berada disekitar kita dalam skala baik dan buruk. Sikap nantinya akan membentuk perilaku. Inilah yang menjadi dasar mengapa dalam transaksi kehidupan manusia – tukar menukar sumberdaya, sering terjadi konflik yang bermula dari interaksi sederhana yang tidak disadari.
Uang, seperti seks bisa menjadi kebutuhan siapa saja. Dalam kondisi tertentu bahkan uang bisa lebih berharga dibandingkan hidup, dan seks tentunya dihargai bak permata indah bagi para narapidana dalam penjara sepi nan suram. Namun adakalanya hal ini dianggap remeh, sebagai sesuatu hal yang mudah, cepat ditransaksikan dan hasilnya pun langsung dirasakan.
Inilah yang harus dibenahi, bahwa bagi pria dan murid, yang sama-sama cenderung menggampangkan sumber dayanya, perlu menyadari akan sebuah rangkaian. Yang begitu sederhana namun rapuh akan kesalahan persepsi. Murid dan Pria seharusnya lebih menyadari akan pentingnya perkawinan dan pengajaran, suatu hal yang sulit yang akan menentukan uang dan seks selanjutnya. Pola pemikiran harus dibuat dua arah, akhirnya akan menghilangkan bias peran dan fungsi harafiahnya.
Dalam majalah itu tertulis sebuah ungkapan dalam bahasa inggris, ”For men, marriage is the price for sex, for women, sex is the price of marriage.” Ungkapan ini tertulis dengan ukuran besar dan mengisi rubric tentang seks pra nikah menurut berbagai sumber. Sayangnya, nama pencetus kalimat ini tertulis NN.
Meskipun majalah ini hanyalah sebuah majalah hiburan, namun kalimat tadi bisa merupakan jokes, sindiran, maupun refleksi bagi kita semua. Insightnya adalah tidak semua pihak yang terlibat dalam melakukan suatu hal memiliki penafsiran yang sama ketika melakukannya.
Dalam seks, memang baik pria dan wanita sekilas melakukan hal tersebut karena alasan yang sama, namun kalimat tadi menggambarkan betapa ironisnya perbedaan yang sebenarnya terjadi. Contoh lain dalam pendidikan, guru mempersepsikan uang (gaji) adalah hadiah setelah lelah mengajar, sedangkan bagi murid, pengajaran dari guru adalah hal yang harus mereka dapatkan dari uang yang telah mereka bayar.
Dua contoh tadi memperlihatkan adanya skala prioritas yang berbeda. Prioritas lelaki adalah seks (stereotype), sedangkan priorittas wanita adalah perkawinan. Prioritas membentuk sebuah sikap -- evaluasi akan hal-hal yang berada disekitar kita dalam skala baik dan buruk. Sikap nantinya akan membentuk perilaku. Inilah yang menjadi dasar mengapa dalam transaksi kehidupan manusia – tukar menukar sumberdaya, sering terjadi konflik yang bermula dari interaksi sederhana yang tidak disadari.
Uang, seperti seks bisa menjadi kebutuhan siapa saja. Dalam kondisi tertentu bahkan uang bisa lebih berharga dibandingkan hidup, dan seks tentunya dihargai bak permata indah bagi para narapidana dalam penjara sepi nan suram. Namun adakalanya hal ini dianggap remeh, sebagai sesuatu hal yang mudah, cepat ditransaksikan dan hasilnya pun langsung dirasakan.
Inilah yang harus dibenahi, bahwa bagi pria dan murid, yang sama-sama cenderung menggampangkan sumber dayanya, perlu menyadari akan sebuah rangkaian. Yang begitu sederhana namun rapuh akan kesalahan persepsi. Murid dan Pria seharusnya lebih menyadari akan pentingnya perkawinan dan pengajaran, suatu hal yang sulit yang akan menentukan uang dan seks selanjutnya. Pola pemikiran harus dibuat dua arah, akhirnya akan menghilangkan bias peran dan fungsi harafiahnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home