haruskah perang?
tergelitik hati akan ujaran seorang teman, pada suatu kesempatan, dimana dirinya berada dihadapan khalayak akademis, bukan tentang psikologi, bukan pula cerita sepele, dia bercerita mengenai perang.
hal ini mengundang banyak tanya dari teman-teman yang hadir. Kiranya perang apa yang hendak dilambungkan lewat ceritanya ini? perang israel-palestina kah? ah itu sudah biasa. apalagi perang yang melibatkan amerika dan sekutunya terhadap negara-negara berkembang di timur tengah. ia bercerita mengenai perang dalam dunia kemahasiswaan.
memang sekilas perang yang dikemukakan tidaklah secara signifikan berpengaruh dalam dunia kemahasiswaan di UI. Tanpa perang tersebut, sebagian besar mahasiswa masih dapat menikmati indahnya dunia mahasiswa, masih bisa pergi ke kampus, makan di kantin, nongkrong, baca buku di perpus lalu pulang ke rumah seperti biasa. namun perang ini membuat saya menjadi prihatin. untuk apa berperang?
dari sejarah umat manusia, sepengetahuan saya yang saya serap dari Arnold Toynbee, sosiolog kawakan dunia, disebabkan oleh 3 hal. Yang pertama adalah adanya 1 pihak sebagai agresor dan 1 pihak yang sebagai victimnya. yang kedua adalah perang karena adanya pihak yang sengaja mengadu domba. lalu yang ketiga adalah perang karena tidak adanya lagi kesepakatan diantara kedua pihak yang bertikai.
kalo dalam konteks perangnya teman saya ini, saya justru bingung, ada di perang yang seperti apakah yang dimaksud olehnya? mungkin cuma perang main-main, tapi kok sepertinya besar ya??
satu hal yang perlu menjadi perhatian disini adalah perang bukanlah suatu hal yang dapat ditoleransi sebagai hal yang manusiawi. dalam perang terdapat kesedihan, kekecewaan, perasaan putus asa, penindasa, kejahatan, penipuan, kelicikan, dan semua hal yang mungkin hanya akan bersarang di neraka. lalu mengapa manusia berperang?
konsep perang mungkin bisa dijadikan sebagai suatu usaha perlawanan, perjuangan melawan ketidak-adilan, membela kebenaran, mencapai tujuan mulia dan sebagainya. Namun haruskah dengan melakukan hal-hal yang "nerakawi" seperti diatas? hal-hal yang seperti ini tentunya ibarat tercebur di sumur sendiri akibat memanjat tambang lapuk..
manusia diberi hati nurani untuk kembali menimbang-nimbang hal yang kiranya tidak konsisten dengan kemanusiaan. kebencian, kelicikan, dan kejahatan tentunya bukan hal yang tertanam pada diri kita sejak lahir. Semua manusia lahir dalam kasih sayang ibunya, dan dibuai oleh cinta Tuhan pada umatnya yang terberi lewat nafas yang dihirup. mengapa manusia mudah tergoda untuk sebuah peperangan?
hey, temanku, mengapa dirimu mengucap kata perang? peperangan yang terucap adalah cerminan hati. adakah suatu kedamaian di hati anda?
hal ini mengundang banyak tanya dari teman-teman yang hadir. Kiranya perang apa yang hendak dilambungkan lewat ceritanya ini? perang israel-palestina kah? ah itu sudah biasa. apalagi perang yang melibatkan amerika dan sekutunya terhadap negara-negara berkembang di timur tengah. ia bercerita mengenai perang dalam dunia kemahasiswaan.
memang sekilas perang yang dikemukakan tidaklah secara signifikan berpengaruh dalam dunia kemahasiswaan di UI. Tanpa perang tersebut, sebagian besar mahasiswa masih dapat menikmati indahnya dunia mahasiswa, masih bisa pergi ke kampus, makan di kantin, nongkrong, baca buku di perpus lalu pulang ke rumah seperti biasa. namun perang ini membuat saya menjadi prihatin. untuk apa berperang?
dari sejarah umat manusia, sepengetahuan saya yang saya serap dari Arnold Toynbee, sosiolog kawakan dunia, disebabkan oleh 3 hal. Yang pertama adalah adanya 1 pihak sebagai agresor dan 1 pihak yang sebagai victimnya. yang kedua adalah perang karena adanya pihak yang sengaja mengadu domba. lalu yang ketiga adalah perang karena tidak adanya lagi kesepakatan diantara kedua pihak yang bertikai.
kalo dalam konteks perangnya teman saya ini, saya justru bingung, ada di perang yang seperti apakah yang dimaksud olehnya? mungkin cuma perang main-main, tapi kok sepertinya besar ya??
satu hal yang perlu menjadi perhatian disini adalah perang bukanlah suatu hal yang dapat ditoleransi sebagai hal yang manusiawi. dalam perang terdapat kesedihan, kekecewaan, perasaan putus asa, penindasa, kejahatan, penipuan, kelicikan, dan semua hal yang mungkin hanya akan bersarang di neraka. lalu mengapa manusia berperang?
konsep perang mungkin bisa dijadikan sebagai suatu usaha perlawanan, perjuangan melawan ketidak-adilan, membela kebenaran, mencapai tujuan mulia dan sebagainya. Namun haruskah dengan melakukan hal-hal yang "nerakawi" seperti diatas? hal-hal yang seperti ini tentunya ibarat tercebur di sumur sendiri akibat memanjat tambang lapuk..
manusia diberi hati nurani untuk kembali menimbang-nimbang hal yang kiranya tidak konsisten dengan kemanusiaan. kebencian, kelicikan, dan kejahatan tentunya bukan hal yang tertanam pada diri kita sejak lahir. Semua manusia lahir dalam kasih sayang ibunya, dan dibuai oleh cinta Tuhan pada umatnya yang terberi lewat nafas yang dihirup. mengapa manusia mudah tergoda untuk sebuah peperangan?
hey, temanku, mengapa dirimu mengucap kata perang? peperangan yang terucap adalah cerminan hati. adakah suatu kedamaian di hati anda?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home