Pak Tani, Kuda dan Anak Lelaki
Gw punya satu kisah yang mungkin ber-insight bagi para pembaca...
Alkisah hiduplah seorang petani di sebuah desa di daerah pelosok. Ia hidup bersama dengan anak lelakinya dalam keadaan yang sederhana, rumahnya hanyalah gubuk dan sehari-harinya dia mencari nafkah dengan menjadi petani ladang.
Pak tani memiliki satu kuda betina yang amat ia sayangi. Sudah sejak kecil kuda ini dipelihara dan dirawat oleh pak tani dengan sepenuh hati. Biarpun dalam keadaan sulit, kuda ini tidak akan pernah dijual karena selain digunakan untuk mengangkut hasil panen, kuda ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga pak tani.
Suatu hari, tiba-tiba pak tani terkejut karena melihat kandang kudanya kosong. Kuda betina kesayangannya telah lari ke tengah hutan meninggalkannya. Betapa sedih hati pak tani kehilangan harta kebanggaannya. Ketika melihat pak tani sedang murung, tetangga sebelah rumahnya tiba-tiba lewat dan berkata, ”Wah kasihan pak tani, sedang kehilangan kuda ya, malang benar nasibmu..”. Mendengar perkataan itu pak tanipun berkata, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Tidak disangka-sangka, dua hari kemudian kuda betina itu kembali ke kandangnya. Ternyata kuda itu tidak sendiri, ada 20 kuda jantan entah dari mana pun ikut berada di dalamnya. Betapa senang hati pak tani melihat kudanya kembali dengan membawa kuda yang lainnya. Kegembiraan pak tani tak terlukiskan kala itu. Sang tetangga kembali datang menghampiri pak tani dan berkata, ”pak tani, sungguh beruntung dirimu, kuda betinamu kembali dan ternyata membawa rejeki yang begitu besar, 20 kuda jantan, memang dirimu sungguh beruntung!”. Pak tani kembali menjawab dengan sederhana, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Beberapa hari kemudian, anak lelaki pak tani tertarik untuk belajar menunggang kuda. Dengan semangat dipilihnya salah-satu kuda jantan yang tampak kokoh untuk diajak menjelajah hutan. Meskipun tanpa peralatan yang memadai sang anak tetap bersikeras untuk berlatih menunggang kuda. Tak jauh dari rumahnya, si anak tiba-tiba terjatuh dari kudanya ketika sedang melaju kencang. Karena teriakan si anak, pak tanipun segera berlari keluar dan menghampiri anaknya. Yang dapat dilihat pak tani hanyalah anak lelakinya yang terluka akibat jatuh dari kuda, dan dengan jelas pak tani mengetahui bahwa anaknya mengalami patah kaki yang serius.
Beberapa kemudian, karena jatuh dari kuda, si anak terpaksa berjalan dengan menggunakan tongkat dan terlihat pincang ketika berjalan. Seluruh penduduk di desa mengetahui keadaan anak lelaki pak tani yang pincang itu. Sang tetangga kembali datang dan mengejek pak tani, ”Wah pak tani, meskipun kau mendapat 20 ekor kuda jantan yang baik, tapi tetap saja nasib malang menimpamu, sungguh malang nasibmu sampai anakmu lelaki satu-satunya menjadi pincang dan tak sedap dipandang mata, bagaimana nanti cari jodohnya?” Pak tani kembali menjawab dengan sederhana, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Keesokan harinya, ada pemberitahuan dari pemerintah bahwa negara sedang berada dalam keadaan darurat perang, angkatan militer negara membutuhkan pasukan dalam jumlah besar, oleh karena itu negara mewajibkan mobilisasi umum dan wajib militer bagi setiap anak laki-laki di seluruh negri. Semua anak lelaki di desapun dibawa oleh para tentara untuk maju di medan perang. Ketika tentara yang mengambil anak laki-laki sampai di rumah pak tani, ia melihat anak pak tani yang pincang kakinya. Tanpa bertanya lebih lanjut, tentara itupun segera meninggalkan rumah pak tani dan beralih ke rumah yang lainnya. Tetangga pak tani juga memiliki anak lelaki dan dibawa dengan paksa oleh tentara untuk berperang.
3 bulan kemudian tersiarlah kabar bahwa negara mengalami kerugian pasukan dalam jumlah besar, ribuan tentara meninggal dalam perang, termasuk anak tetangga pak tani. Mendengar kabar itu, sedihlah hati si tetangga, dan ketika ia bertemu dengan pak tani ia berkata, ”Pak tani, sungguh beruntung nasibmu, anak lelakimu selamat dari keganasan perang, sedangkan aku kini merana, anak lelakiku yang menjadi harapanku kini telah gugur di medan perang, punahlah garis keturunanku. Tapi kau tentu berbahagia pak tani, kau masih memiliki anak lelaki yang pincang namun tak lama lagi pulih kakinya, tentunya dia akan mencari gadis idamannya dan melanjutkan garis keturunanmu.” Kembali pak tani dengan sederhana dan pasrah berkata, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Alkisah hiduplah seorang petani di sebuah desa di daerah pelosok. Ia hidup bersama dengan anak lelakinya dalam keadaan yang sederhana, rumahnya hanyalah gubuk dan sehari-harinya dia mencari nafkah dengan menjadi petani ladang.
Pak tani memiliki satu kuda betina yang amat ia sayangi. Sudah sejak kecil kuda ini dipelihara dan dirawat oleh pak tani dengan sepenuh hati. Biarpun dalam keadaan sulit, kuda ini tidak akan pernah dijual karena selain digunakan untuk mengangkut hasil panen, kuda ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga pak tani.
Suatu hari, tiba-tiba pak tani terkejut karena melihat kandang kudanya kosong. Kuda betina kesayangannya telah lari ke tengah hutan meninggalkannya. Betapa sedih hati pak tani kehilangan harta kebanggaannya. Ketika melihat pak tani sedang murung, tetangga sebelah rumahnya tiba-tiba lewat dan berkata, ”Wah kasihan pak tani, sedang kehilangan kuda ya, malang benar nasibmu..”. Mendengar perkataan itu pak tanipun berkata, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Tidak disangka-sangka, dua hari kemudian kuda betina itu kembali ke kandangnya. Ternyata kuda itu tidak sendiri, ada 20 kuda jantan entah dari mana pun ikut berada di dalamnya. Betapa senang hati pak tani melihat kudanya kembali dengan membawa kuda yang lainnya. Kegembiraan pak tani tak terlukiskan kala itu. Sang tetangga kembali datang menghampiri pak tani dan berkata, ”pak tani, sungguh beruntung dirimu, kuda betinamu kembali dan ternyata membawa rejeki yang begitu besar, 20 kuda jantan, memang dirimu sungguh beruntung!”. Pak tani kembali menjawab dengan sederhana, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Beberapa hari kemudian, anak lelaki pak tani tertarik untuk belajar menunggang kuda. Dengan semangat dipilihnya salah-satu kuda jantan yang tampak kokoh untuk diajak menjelajah hutan. Meskipun tanpa peralatan yang memadai sang anak tetap bersikeras untuk berlatih menunggang kuda. Tak jauh dari rumahnya, si anak tiba-tiba terjatuh dari kudanya ketika sedang melaju kencang. Karena teriakan si anak, pak tanipun segera berlari keluar dan menghampiri anaknya. Yang dapat dilihat pak tani hanyalah anak lelakinya yang terluka akibat jatuh dari kuda, dan dengan jelas pak tani mengetahui bahwa anaknya mengalami patah kaki yang serius.
Beberapa kemudian, karena jatuh dari kuda, si anak terpaksa berjalan dengan menggunakan tongkat dan terlihat pincang ketika berjalan. Seluruh penduduk di desa mengetahui keadaan anak lelaki pak tani yang pincang itu. Sang tetangga kembali datang dan mengejek pak tani, ”Wah pak tani, meskipun kau mendapat 20 ekor kuda jantan yang baik, tapi tetap saja nasib malang menimpamu, sungguh malang nasibmu sampai anakmu lelaki satu-satunya menjadi pincang dan tak sedap dipandang mata, bagaimana nanti cari jodohnya?” Pak tani kembali menjawab dengan sederhana, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”
Keesokan harinya, ada pemberitahuan dari pemerintah bahwa negara sedang berada dalam keadaan darurat perang, angkatan militer negara membutuhkan pasukan dalam jumlah besar, oleh karena itu negara mewajibkan mobilisasi umum dan wajib militer bagi setiap anak laki-laki di seluruh negri. Semua anak lelaki di desapun dibawa oleh para tentara untuk maju di medan perang. Ketika tentara yang mengambil anak laki-laki sampai di rumah pak tani, ia melihat anak pak tani yang pincang kakinya. Tanpa bertanya lebih lanjut, tentara itupun segera meninggalkan rumah pak tani dan beralih ke rumah yang lainnya. Tetangga pak tani juga memiliki anak lelaki dan dibawa dengan paksa oleh tentara untuk berperang.
3 bulan kemudian tersiarlah kabar bahwa negara mengalami kerugian pasukan dalam jumlah besar, ribuan tentara meninggal dalam perang, termasuk anak tetangga pak tani. Mendengar kabar itu, sedihlah hati si tetangga, dan ketika ia bertemu dengan pak tani ia berkata, ”Pak tani, sungguh beruntung nasibmu, anak lelakimu selamat dari keganasan perang, sedangkan aku kini merana, anak lelakiku yang menjadi harapanku kini telah gugur di medan perang, punahlah garis keturunanku. Tapi kau tentu berbahagia pak tani, kau masih memiliki anak lelaki yang pincang namun tak lama lagi pulih kakinya, tentunya dia akan mencari gadis idamannya dan melanjutkan garis keturunanmu.” Kembali pak tani dengan sederhana dan pasrah berkata, ”Untung atau malang hanya Tuhan yang tahu.”

1 Comments:
k vigara..
just dropping by. hehe.
Post a Comment
<< Home