Thursday, October 26, 2006

EXCLV

kalo kita ngamatin sebuah kelompok, merhatiin bener2, buat tau ciri khas kelompok yang beda dari kelompok lain itu agak sulit, lebih sulit lagi kalo memprediksi kira-kira beberapa lama lagi ya kelompok ini bertahan, nah tapi kalo bisa bedain ini kelompok eksklusif ato ngga, itu jauh lebih mudah!

semua bisa melihat, toh semua punya indera, semua bisa mengerti toh kita punya kognisi. eksklusif merupakan kata yang sering kita dengar, ada klub eksklusif, paket eksklusif, ruang tunggu eksklusif, dan masih banyak lagi. sadar ngga asal katanya?

eksklusif itu gampangnya adalah antonim dari include, inclusive (bergabung, termasuk dalam), nah kalo exclude itu artinya ada yang beda, ada yang menonjol, sulit untuk dibilang ordinary. satu kunci disini adalah, apakah eksklusif itu dibuat oleh kelompok atau diberi?

satu fenomena di psikologi adalah mengenai hadirnya kelompok eksklusif, mulai dari yang sering kumpul di satu ruangan, lalu mengurung diri di dalamnya hingga mereka merasa "pleno"nya udah selesai. atau ada yang lain lagi nih, yang isinya nyanyi, ngobrol sok serius, yang penting urusan kambing guling dan sound system beres!

ini bukan judgement, ini adalah opini, mungkin benar, mungkin salah, mungkin bisa membantu.

keeksklusifan in bisa datang dari dalam maupun luar kelompok. mari kita kaji. kita andaikan hal ini datang dari luar kelompok. simply, manusia itu observer, kita bisa mengamati, dan tentunya bisa menilai mana yang eksklusif mana yang bukan. ciri-cirinya? ada banyak ternyata, yang pertama dengan memilih kumpul di tempat tertentu, ini berkaitan dengan personal teritory, zona kenyamanan dimana kebutuhan kelompok bisa terakomodir. Ini biasa, yang luar biasa adalah jika tempat tersebut menjadi tempat pribadi meskipun in-natura, tempat itu adalah tempat umum, misalnya ruang kegiatan kemahasiswaan yang digunakan untuk kumpul atau mungkin di tempat makan kampus. Tempat yang mereka gunakan seharusnya bisa menjadi tempat yang dimiliki semua orang, tidak ada yang segan untuk masuk, duduk atau sekedar hangout disitu, toh itu tempat umum. Kenyataanya untuk masuk saja sulit dan memunculkan keenganan. Ini sifat eksklusif pertama yang dilihat orang.

Yang kedua bisa dilihat dari kegiatannya. Indikator dari sebuah sifat kelompok yang eksklusif adalah dengan adanya kegiatan yang sulit untuk diikuti dan diminati, mengingat kegiatan tersebut bukanlah hal yang umum. Misalnya sebagai mahasiswa psikologi kan agak-agak janggal berkutat dengan perundang-undangan, tapi ada loh kelompok yang senang dengan hal-hal seperti ini. Bukan saja untuk pemenuhan kewajiban, tapi cenderung suka menambah dan memanfaatkan. Memang ini subjektif, tapi implikasinya besar dan dirasakan, contohnya adalah pemasangan permohonan maaf yang berlebihan, ini kan tidak tepat, masa’ memberlakukan sanksi padahal aturannya baru dibuat setelah ada vonis, ini kan terbalik. Inilah yang membuat kelompok ini nampak eksklusif..

Di lain sisi ada keeksklusifan yang dibuat secara sengaja oleh kelompok, misalnya pada kelompok kambing guling dan sound system ini, sifat eksklusif nampak dari cara kerja. Memang diakui cara kerja mereka beda dengan yang lain, dan alasannya adalah disaat kita bekerja dengan exposure dan target besar, maka pandangan kitapun harus work oriented, no amateurs! Bahkan dengan gamblang kelompok ini menyatakan tujuan adalah hal yang utama, oleh karena itu semua parasit (baca:personil) yang tidak perlu bisa dibuang. Kelompok ini seharusnya bisa menjadi kelompok yang terbuka, yang mengasyikkan, yang selalu welcome terhadap anggota baru, tapi kenyataannya tidak. Ada yang berpendapat (dari kelompok ini) bahwa untuk melaksanakan tugas, tiga orang saja cukup sambil menyebut nama anggota yang “dedicatedly pro”. Ini lucu, padahal dalam proses promosi dan rekrutmen mereka mencari, tetapi dalam proses kerja merek a mengenal seleksi yang ketat dengan sistem yang high standardized dan kurang tepat.

Gw katakan tidak tepat karena ukurannya tidak seimbang. Di psikologi kita mengenal individial differences, yang meliputi kondisi fisik dan latar belakang psikososial. Disini hal itu kurang disadari, munculah ego dan arogansi kelompok. Di dalam kelompok itu,semua harus sama-sama kerja, bukan kerja sama-sama. Inilah perbedaan antar kelompok yang toleran dan tingkap opennesnya tinggi dengan kelompok eksklusif. Parameter dari keberhasilan sebagai anggota diukur dengan pebandingan cara kerja yang “pro”. Ya jelas tidak realistis. Tergabung dalam kelompok ini adalah pilihan, termasuk jika harus bolos kuliah, batalin janji, cancel urusan penting, mengesampingkan permasalahan pribadi, semuanya itu adalah pilihan.

Jika ingin diandaikan, lebih penting mana kepala kita atau kaki kita? Kalau salah satunya tidak ada, tentunya tidak akan berjalan baik. Semua bagian punya kelebihan dan semuanya berkontribusi dengan cara yang terdiferensiasi masing-masing. Tujuan bisa sama, tapi proses tidak bisa serupa. Kita bukan robot, dan kelompok yang eksklusif ini seharusnya bisa mengerti akan keperluan anggotanya. Dengan bergabung dalam kelompok ini, tentunya ada niat,ada keseriusan, ada pengorbanan, yang seharusnya disupport bukan dicela atau dipermasalahkan.. sayangnya si “pro” di kelompok ini bukanlah orang dengan intensitas kegiatan yang tinggi, yang bisa tribute to kelompok ini hampir 100%, lalu bagaimana nasib anggota lain yang punya banyak kegiatan? Apa harus keluar karena tidak mendukung prinsip eksklusif ini?

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan memberi masukan kepada kelompok yang merasa, dirasakan, dianggap atau mungkin menciptakan diri eksklusif. Semoga BPM Psikologi UI dan tim Advance bisa belajar banyak dari pengalaman yang ada. Idealism is a shit, understanding is a gold, real gold!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home