senat atau karir...??
Tadi sore ada acara buka bersama senat i will fly (05/06) di ayam bakar wong solo depok. Hampir semua anggota senat yang dipimpin oleh Verdi berkumpul bersama, berbuka, sedikit bernostalgia, dan juga bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dalam rangka bulan ramadhan yang kami rayakan bersama-sama. Awalnya gw ngga menduga akan banyak yang datang, mengingat sekarang sedang banyak tugas kuliah, lalu senat i will fly juga sudah memiliki tugas masing-masing di organisasi yang baru dan ditambah lagi acara ini mendadak dibuatnya, kurang lebih 1 minggu yang lalu. Tapi ternyata yang datang banyak! Kira-kira hanya 1 orang dari setiap bidang yang tidak ikutan acara ini.
Acara ini seru banget, ada games, ada makan2nya pasti, dan ada sharing setelah lama ngga ketemu sesama senat i will fly. Tapi yang berkesan adalah ketika Verdi dan Rendi (BLBN) memberikan sedikit speech ke anak-anak, kira-kira isi dari speech itu begini:
Verdi meceritakan tentang pengalamannya mencari kerja, dan satu fakta baru adalah ketua senat sekalipun ngga ngaruh dalam penempatan kerja! Jangankan jadi staff di kepanitiaan, jadi BPH di senat, jadi wakil ketua senat, jadi KETUA SENATpun tidak secara langsung berpengaruh dalam preferensi pemilihan karyawan freshgraduate! Lalu buat apa susah-susah memupuk “karir” di senat? Bahkan jabatan hebatpun akan tidak berpengaruh di kehidupan nyata (baca:kerja) nantinya? Haduh...
Lalu yang kedua adalah kurang cakapnya lulusan Psikologi UI dibandingkan dengan lulusan dari Atma Jaya atau YAI (ini kata rizal). Ketika dia ditanya oleh pewawancara di perusahaan, apakah alat ukur yang dikuasainya, rizal menjawab bahwa dia mengetahui beberapa dan menyebutkan macam-macam alat ukur, namun ketika ditanya apakah sanggup untuk melalukan tes sampai dengan interpretasi tentu saja semua lulusan Psi-UI saat ini berkata tidak! Inilah kerisauan kedua!
Aduh udah jabatan senat ngga berpengaruh di perusahaan, trus ditambah kompetensi lulusan Psi-UI yang ”kalah” dibandingkan dengan universitas lain! Ah, risaunya hati ini! (terpengaruh logat malaysia,hehe...)
Tapi yang gw pikirkan saat ini adalah bahwa apa yang dikatakan Verdi, Rizal ataupun rendi tidaklah salah, semuanya adalah fakta, bukan pendapat pribadi yang dihiasi oleh keluhan yang sebelumnya tertahan akibat kesulitan mencari kerja! Verdi sebelumnya sudah mengusulkan agar 3 bulan sebelum lulus sudah apply ke perusahaan agar memiliki spare waktu, sehingga ketika lulus langsung bekerja, tidak seperti yang dialami salah satu dari mereka.
Menjadi senat, terlepas dari kebutuhan dan kesadaran yang salah bahwa senat dapat mendongkrak CV adalah tidak sesuai. Bukannya salah, tapi memang tidak sesuai. Mungkin ada jamannya dimana aktif di organisasi kampus dapat memberikan “throttle booster” di karir kita, namun kini yang dilihat adalah hal lain.
Senat mengajarkan soft skill (kata rendi), bukan hard skill. Artinya adalah apa yang kita dapatkan di senat tidak menjamin kita akan sukses dalam memasuki dunia kerja, khususnya ketika melamar kerja. Gw setuju dengan Rendi dan berpikir bahwa dengan memasuki dunia organisasi kemahasiswaan, pribadi kita dilatih dalam tanggung jawab dan interpersonal orang lain. Kita tidak diajarkan hardskill seperti yang dibutuhkan dalam dunia kerja, tapi bekal kemampuan interpersonal kita, problem solving, manajemen konflik, manajemen waktu, tanggung jawab, komunikasi kita akan banyak terasah ketika kita terlibat di senat.
Orang di perusahaan mungkin menganggap keaktifan di senat sebagai hobi, sebagai bagian dari kehidupan hura-hura anak muda, tak ada bedanya dengan hobi bermain basket, atau melukis, atau bermain drama, tapi hendaklah kita yang mengusahakan hal tersebut memaknainya dengan cara berbeda. Kita mungkin sedang menggeluti sebuah “hobi”, tapi itulah yang membuat kita semakin dewasa dengan cara yang nyata, dengan peluh dan lelah kita, dengan kesabaran dan kekuatan kita. Apa yang kita lakukan pastilah bermanfaat, karena sesungguhnya pengalamanlah yang menjadi guru utama, bukan sekedar membaca buku yang hanya menawarkan pengetahuan bukan keterampilan. Kita dapatkan semuanya itu dari senat (organisasi kampus), dan kita patut bersyukur karenanya, kita dipilih, kita dipercaya, kita berkarya dan kita menikmati sukses kita bersama teman-teman kampus yang lain.
Sebagai mahasiswa psikologi UI, yang katanya kalah dengan universitas lain, bukan seharusnya kita menjadi rendah diri dan pasrah pada lowongan pekerjaan, namun kita bisa berusaha. Hubungannya dengan senat, melalui senat,kita berinteraksi dengan orang-orang sukses, yang telah berpengalaman mengubah diri dan lingkungannya menjadi lebih baik. Interaksi (baca:koneksi) iniliah yang bisa kita pelihara, dan nanitnya akan memberikan manfaat untuk kita. Hal ini bisa kita dapatkan misalnya di ILUNI, Pusat-pusat di fakultas, maupun LSM-LSM lain yang dapat menjadi jembatan kita menuju karir.
Hal lain yang tak lupa adalah jangan lewatkan kesempatan untuk magang, sebab disinilah kita akan mendapatkan Hard Skill. Meskipun sedikit, iniliah yang amat dihargai oleh perusahaan tempat kita melamar nantinya. Pengalaman magang memberikan kita kesempatan besar untuk mendongkrak CV, menambah pengalaman bekerja sebelum lulus kuliah, dan juga pengembangan karir nantinya. Manfaatkan kesempatan magang, dan dengan demikian secara individu kita memiliki 2 kekuatan yakni lulusan Universitas Indonesia dan berkompetensi di dunia karir!
Setelah membaca mungkin bingung, milih senat atau magang ya di semester-semester akhir? Ini adalah pilihan kita. Kedua pilihan ini akan memiliki keuntungan jika dilihat melalui 2 kacamata yang berbeda. Dari sudut pandang karir, tentu magang menjadi pilihan pertama mengingat kesempatan untuk mengembangkan karir nantinya. Namun jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa yang ingin beraktualisasi diri, ingin berkontribusi kepada mahasiswa lain dan masyarakat, menjadi senat adalah pilihan tepat. Dengan menjadi senat, maka pantaslah kita berbangga karena sudah berusaha mewujudkan 3 peran mahasiswa, sosial, moral dan intelektual, sebelum kita lulus dan merasakan tantangan lain.
Bagi pengurus senat yang lain, jangan risau, jangan galau, sebab dalam membangun komitmen organisasi di Senat, bukanlah dengan janji-janji palsu tentang CV dan sebagainya, bukan pula dengan pemaksaan pimpinannya. Sebab setiap komitmen emas datang dari pilihan cerdas, seluruh anggota berhak untuk memilih menjadi bagian dari senat dan bekerja optimal, semuanya ini demi kesuksesan bersama di senat dan untuk mengalami pengembangan pribadi yang takkan terlupa sepanjang usia kita nantinya.
Acara ini seru banget, ada games, ada makan2nya pasti, dan ada sharing setelah lama ngga ketemu sesama senat i will fly. Tapi yang berkesan adalah ketika Verdi dan Rendi (BLBN) memberikan sedikit speech ke anak-anak, kira-kira isi dari speech itu begini:
Verdi meceritakan tentang pengalamannya mencari kerja, dan satu fakta baru adalah ketua senat sekalipun ngga ngaruh dalam penempatan kerja! Jangankan jadi staff di kepanitiaan, jadi BPH di senat, jadi wakil ketua senat, jadi KETUA SENATpun tidak secara langsung berpengaruh dalam preferensi pemilihan karyawan freshgraduate! Lalu buat apa susah-susah memupuk “karir” di senat? Bahkan jabatan hebatpun akan tidak berpengaruh di kehidupan nyata (baca:kerja) nantinya? Haduh...
Lalu yang kedua adalah kurang cakapnya lulusan Psikologi UI dibandingkan dengan lulusan dari Atma Jaya atau YAI (ini kata rizal). Ketika dia ditanya oleh pewawancara di perusahaan, apakah alat ukur yang dikuasainya, rizal menjawab bahwa dia mengetahui beberapa dan menyebutkan macam-macam alat ukur, namun ketika ditanya apakah sanggup untuk melalukan tes sampai dengan interpretasi tentu saja semua lulusan Psi-UI saat ini berkata tidak! Inilah kerisauan kedua!
Aduh udah jabatan senat ngga berpengaruh di perusahaan, trus ditambah kompetensi lulusan Psi-UI yang ”kalah” dibandingkan dengan universitas lain! Ah, risaunya hati ini! (terpengaruh logat malaysia,hehe...)
Tapi yang gw pikirkan saat ini adalah bahwa apa yang dikatakan Verdi, Rizal ataupun rendi tidaklah salah, semuanya adalah fakta, bukan pendapat pribadi yang dihiasi oleh keluhan yang sebelumnya tertahan akibat kesulitan mencari kerja! Verdi sebelumnya sudah mengusulkan agar 3 bulan sebelum lulus sudah apply ke perusahaan agar memiliki spare waktu, sehingga ketika lulus langsung bekerja, tidak seperti yang dialami salah satu dari mereka.
Menjadi senat, terlepas dari kebutuhan dan kesadaran yang salah bahwa senat dapat mendongkrak CV adalah tidak sesuai. Bukannya salah, tapi memang tidak sesuai. Mungkin ada jamannya dimana aktif di organisasi kampus dapat memberikan “throttle booster” di karir kita, namun kini yang dilihat adalah hal lain.
Senat mengajarkan soft skill (kata rendi), bukan hard skill. Artinya adalah apa yang kita dapatkan di senat tidak menjamin kita akan sukses dalam memasuki dunia kerja, khususnya ketika melamar kerja. Gw setuju dengan Rendi dan berpikir bahwa dengan memasuki dunia organisasi kemahasiswaan, pribadi kita dilatih dalam tanggung jawab dan interpersonal orang lain. Kita tidak diajarkan hardskill seperti yang dibutuhkan dalam dunia kerja, tapi bekal kemampuan interpersonal kita, problem solving, manajemen konflik, manajemen waktu, tanggung jawab, komunikasi kita akan banyak terasah ketika kita terlibat di senat.
Orang di perusahaan mungkin menganggap keaktifan di senat sebagai hobi, sebagai bagian dari kehidupan hura-hura anak muda, tak ada bedanya dengan hobi bermain basket, atau melukis, atau bermain drama, tapi hendaklah kita yang mengusahakan hal tersebut memaknainya dengan cara berbeda. Kita mungkin sedang menggeluti sebuah “hobi”, tapi itulah yang membuat kita semakin dewasa dengan cara yang nyata, dengan peluh dan lelah kita, dengan kesabaran dan kekuatan kita. Apa yang kita lakukan pastilah bermanfaat, karena sesungguhnya pengalamanlah yang menjadi guru utama, bukan sekedar membaca buku yang hanya menawarkan pengetahuan bukan keterampilan. Kita dapatkan semuanya itu dari senat (organisasi kampus), dan kita patut bersyukur karenanya, kita dipilih, kita dipercaya, kita berkarya dan kita menikmati sukses kita bersama teman-teman kampus yang lain.
Sebagai mahasiswa psikologi UI, yang katanya kalah dengan universitas lain, bukan seharusnya kita menjadi rendah diri dan pasrah pada lowongan pekerjaan, namun kita bisa berusaha. Hubungannya dengan senat, melalui senat,kita berinteraksi dengan orang-orang sukses, yang telah berpengalaman mengubah diri dan lingkungannya menjadi lebih baik. Interaksi (baca:koneksi) iniliah yang bisa kita pelihara, dan nanitnya akan memberikan manfaat untuk kita. Hal ini bisa kita dapatkan misalnya di ILUNI, Pusat-pusat di fakultas, maupun LSM-LSM lain yang dapat menjadi jembatan kita menuju karir.
Hal lain yang tak lupa adalah jangan lewatkan kesempatan untuk magang, sebab disinilah kita akan mendapatkan Hard Skill. Meskipun sedikit, iniliah yang amat dihargai oleh perusahaan tempat kita melamar nantinya. Pengalaman magang memberikan kita kesempatan besar untuk mendongkrak CV, menambah pengalaman bekerja sebelum lulus kuliah, dan juga pengembangan karir nantinya. Manfaatkan kesempatan magang, dan dengan demikian secara individu kita memiliki 2 kekuatan yakni lulusan Universitas Indonesia dan berkompetensi di dunia karir!
Setelah membaca mungkin bingung, milih senat atau magang ya di semester-semester akhir? Ini adalah pilihan kita. Kedua pilihan ini akan memiliki keuntungan jika dilihat melalui 2 kacamata yang berbeda. Dari sudut pandang karir, tentu magang menjadi pilihan pertama mengingat kesempatan untuk mengembangkan karir nantinya. Namun jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa yang ingin beraktualisasi diri, ingin berkontribusi kepada mahasiswa lain dan masyarakat, menjadi senat adalah pilihan tepat. Dengan menjadi senat, maka pantaslah kita berbangga karena sudah berusaha mewujudkan 3 peran mahasiswa, sosial, moral dan intelektual, sebelum kita lulus dan merasakan tantangan lain.
Bagi pengurus senat yang lain, jangan risau, jangan galau, sebab dalam membangun komitmen organisasi di Senat, bukanlah dengan janji-janji palsu tentang CV dan sebagainya, bukan pula dengan pemaksaan pimpinannya. Sebab setiap komitmen emas datang dari pilihan cerdas, seluruh anggota berhak untuk memilih menjadi bagian dari senat dan bekerja optimal, semuanya ini demi kesuksesan bersama di senat dan untuk mengalami pengembangan pribadi yang takkan terlupa sepanjang usia kita nantinya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home