Thursday, October 26, 2006

saving for life

Pada jaman yang penuh godaan materialistik, manusia terlalu sibuk dalam mengumpulkan uang, lalu membelanjakaanya. Segala sumber daya yang ada dirasa sebagai imbal dari hasil kerja keras yang mana, harus segera digunakan dan tentunya, dihabiskan..

Satu hal yang membuat saya kembali berpikir mengenai pola konsumsi manusia adalah, pada umumnya manusia berpikir dengan patokan waktu sekarang (present), terkadang manusia yang lebih cerdas akan lebih reflektif dengan mencoba menggali pengalaman-pengalaman masa lalu (past), dan yang lebih cerdas lagi akan mencoba berpikir futuristik dengan merecanakan masa depan. Tipe pertama tentu banyak didapati dari sekitar kita, orang yang mencoba mencari uang lalu dihabiskan, berharap esok dirinya akan mendapat ganjaran lain dari nafas dan keringatnya. Tipe kedua mencoba untuk belajar dari masa lalunya, jika di masa lalu ia merasa masih terlalu lapar setelah bekerja keras, tentunya sekarang akan bekerja lebih keras lagi dengan harapan memenuhi isi perutnya dan puas dalam kenyangnya. Tipe ketiga inilah yang kurang umum, dan hanya sedikit yang mencoba melihat ke arah tersebut.

Adalah konsep SAVING.. ya... SAVING alias Menabung. Menabung merupakan salah satu bukti kecerdasan organisme yang terkadang luput akibat terlalu banyaknya indera yang membuat SAVING sering tidak berarti. Semut saja menabung untuk keperluan musim dingin, namun hewan dengan derajad lebih tinggi belum tentu melakukannya. Menabung adalah bukti peralihan besar manusia dari masa lampau. Revolusi Food Gathering menjadi Food Producing menjadi suatu bukti nyata akan perkembangan manusia untuk menabung.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti rapat berskala nasional di puncak. Pada rapat tersebut seorang pejabat organisasi mengungkapkan betapa pentingnya menabung dalam organisasi. Beliau mengibaratkan seseorang yang berlindung di bawah pohon. Tentunya semua dari kita akan berpikir akan lebih nyaman dan aman berlindung di bawah pohon yang rindang. Sama halnya dengan berorganisasi.

Dalam organisasi faktor keuangan merupakan faktor vital yang menentukan hidup mati organisasi. Organisasi adalah pohon kita, dan uang (aset) adalah ranting dan daunnya. Banyak orang salah kaprah memandang sumber daya dana dalam organisasi sebagai satu alat untuk berkembang, sarana untuk mewujudkan mimpi bersama dengan uang (modal) sebagai taruhannya. Jika lagi beruntung, tentunya investasi akan berbalik secara menguntungkan, membawa manfaat bagi orang banyak dan juga membawa nama baik organisasi.

Tapi pernahkah berpikir bahwa apabila organisasi yang memiliki aset yang lebih banyak 10 kali lipat dari sekarang akan membawa hal sebesar apa bagi anggota-anggotanya? Anggaplah kita berada di suatu organisasi dengan uang kas sebesar 10 juta tanpa simpanan lain. Ketika program kerja berjalan, 10 juta ini “disebar” ke dalam kantong-kantong kegiatan sesuai tujuan organisasi. Karena demikian banyaknya, maka 10 juta ini habis terpakai. Karena memang sudah jatahnya, maka tahun selanjutnya, organisasi ini mendapat 10 juta lagi sebagai modal awal. Alangkah berbahaya dan membosankannya apabila setiap tahun hanya mendapat jatah 10 juta.

Lain halnya dengan organisasi yang mencoba untuk SAVING, menabung untuk masa depan organisasi. Menabung 30% – 50% dari dana awal memang terasa menjengkelkan, dana untuk kegiatan akan berkurang, namun, coba lihat 5 tahun kedepan. Organisasi kita akan memiliki aset cair sebesar 25+10 juta alias 35 juta. Bayangkan apabila kita alokasikan dalam investasi yang baik, seperti deposito atau reksadana, berapa keuntungan lebih lanjut yang akan didapatkan dari sebuah kesabaran lewat menabung?

Tentunya kita harus cerdas dalam mengelola keuangan, dan menabung adalah satu hal pasti yang harus dilakukan, berapapun besarnya. Menabung menjadi suatu kebutuhan, yang akan bisa dinikmati di masa yang akan datang. Menabung merupakan bukti perkembangan kebudayaan manusia yang seharusnya menjadi pola kehidupan manusia modern di masa kini demi masa depan yang lebih baik!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home